Minggu, 09 Oktober 2016

Jam Molekuler



Disamping pencarian fosil yang sulit ditemukan. Susahnya orang-orang Paleontologi adalah menentukan umur fosil makhluk hidup. Ada metode untuk membantu pekerjaan mereka, yakni dengan peluruhan karbon. Namun, rasio C-14 / C-12 terkadang tidak sekonstan yang diharapkan. Hal ini membuat perhitungan menjadi kurang akurat. Selain mengetahui umur, dalam bidang evolusi molekul juga sangat penting mengetahui penyimpangan antara kedua spesies. Untuk mengetahui penyimpangan spesies di garis silsilah evolusioner, terdapat sebuah metode yakni metode Jam Molekuler (molecular clock). Fosil yang sudah ditemukan dan diketahui umurnya, bisa dijadikan patokan untuk membentuk silsilah spesies yang saling berkesinambungan guna mengkalibrasi suatu jam molekuler. Dengan bantuan metode jam molekuler, saat timbulnya filum-filum hewan, waktunya bisa terekonstruksi lebih dini daripada yang ditunjukkan pada fosil yang dari Zaman Vendian (akhir Prakambrium) karena molekul terkadang bisa bergerak dengan cepat. Selain dapat mensintesiskan narasi evolusi dan mengintegrasikan bukti evolusi dari sisi catatan geologis. Tapi, dalam menggunakan metode jam molekuler juga harus berhati-hati. Menurut Zuckerkandl dan Pauling (1962), jam molekuler hampir sama seperti karbon, yakni laju perubahannya tidak konstan dan berubah-ubah. Hal ini akan menimbulkan kekeliruan dalam eksperimen. Jadi, harus diperhatikan dengan baik.

Referensi :
  • Evolution by Ernst Mayr. (book)
  • Uncertainly in the Timing of Origin of Animals and the Limits of Precision in Molecular Timescales by Mario dos Reis, et al. (article)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar