Kamis, 29 September 2016

The Beauty of Math

Entah kenapa pelajaran yang paling dibenci setelah fisika itu adalah matematika. Walau matematika adalah pelajaran yang paling dibenci ke dua, tetapi matematika dibenci karena apa? Apa karena menghitungnya atau karena susah dimengertinya?


Saya di sini akan membawa kalian ke dalam indahnya bermatematika itu. So stay tune.



Pertama saya ingin membuat kesimpulan dulu dari hasil pengamatan saya terhadap kenapa matematika itu dibenci oleh banyak orang. Orang-orang biasanya langsung menghafalkan rumus jadi tanpa mengetahui seluk-beluk dari rumus itu. Itulah the big problem dalam belajar di matematika. "Terus rumus itu diapain dong?" Jadi gini, di dalam bab-bab di matematika itu seperti bab eksponen, di bab itu dijelaskan definisi dari bab eksponen dahulu, setelah dari definisi maka diturunkan lah berbagai sifat dari definisi itu atau yang kita kenal sebagai rumus. Nah, jadi kita harus bisa kenali definisinya. Setelah dari situ kita baru turunkan definisi itu hingga menjadi rumus. Eksponen menjelaskan tentang notasi perpangkatan dan sifat pangkat. Definisinya yaitu jika suatu suku dikali dengan suku yang sama sebanyak n, maka notasinya yaitu suku itu dipangkatkan dengan n di mana n itu adalah bilangan bulat. Jadi kalau ada x dikali x sebanyak 4 kali, maka notasinya sama dengan x^4 sesuai gambar.
Jadi kita bisa buat rumus kalau ada x dikali x sebanyak n kali, maka notasinya adalah x^n. 
Lalu kalau ada x dikali x sebanyak 3 kali dan dikali lagi dengan x dikali x sebanyak 4 kali jadi kalian bisa lihat seperti di gambar.
Nah, masing-masing pangkat dari suku itu akan dijumlahkan ketika suku itu dikali sehingga rumusnya itu seperti di gambar. 
Nah itu penjelasan singkat saja, kalian bisa lanjut lagi di sini. Dan itu bahasan yang masih mudah saja, belum ke ranah trigonometri dan kalkulus yang lebih seru lagi. Jadi, jangan lupa untuk mengetahui dahulu definisinya sebelum dijabarkan sampai menjadi sebuah rumus. Dan jangan lupa untuk selalu menurunkan rumus itu karena dengan latihan seperti itu, kita akan semakin mengerti tentang kenapa rumus itu ada. 


Lalu selanjutnya kenapa matematika itu dibenci karena cara orang menggunakan proses bermatematika itu tidak kreatif. Biasanya kebanyakan orang itu hanya mengandalkan suatu cara untuk menyelesaikan masalah matematika, padahal ada banyak cara dalam menyelesaikan soal sehingga dia hanya terpaku dan tidak melatih kreativitas dalam penyelesaian masalah. "Apa pentingnya hal ini?" Yah menurutku hal ini penting untuk bisa mengenal matematika dengan banyak sudut pandang, bukan hanya satu sudut pandang. Dan itu juga melatih kreativitas dalam memberi solusi atas masalah di matematika. Ini adalah contoh soal dengan penyelesaian yang kreatif.


Terpikirkan tidak dengan penyelesaian di atas?


Nah mungkin itu saja pengamatan saya tentang kenapa matematika itu jadinya dibenci. Selanjutnya tentang keindahan di matematika itu. "Matematika kan dibenci banyak orang? Indah dari mananya?" Ini untuk orang yang seperti di atas makanya dia tidak bisa tahu tentang keindahan di dalam matematika. Di dunia matematika itu ada istilah "proof without words" yang artinya pembuktian tanpa kata-kata. "Pembuktian apa?" Pembuktian rumus-rumus tanpa perlu menjelaskan rumus itu dengan kata-kata. Jadi orang-orang ingin menjelaskan sesuatu dengan lebih elegan lagi tanpa perlu berbicara. Ini hanya kreasi saja. "Sudah pernah dengar belum?" Ini adalah video dari proof without words tentang rumus luas lingkaran.



Indah tidak? Mungkin bagi orang yang belum paham akan kurang mengerti, tetapi orang-orang yang senang bermatematik itu selalu ingin melakukan proof without words agar terlihat lebih elegan. Nah keindahan yang selanjutnya dari matematika itu bahwa dia juga bisa menjadi "alat" untuk menjelaskan kejadian-kejadian di alam ini. Seperti di video ini.




Yah itu saja bahasan tentang indahnya matematika, mungkin matematika dibenci karena ada cara-cara yang keliru seperti di atas, tetapi matematika itu juga memiliki nilai seni seperti kata Bertrand Russel "Mathematics, rightly viewed, possesses not only truth, but supreme beauty — a beauty cold and austere, like that ofsculpture, without appeal to any part of our weaker nature, without the gorgeous trappings of painting or music, yet sublimely pure, and capable of a stern perfection such as only the greatest art can show. The true spirit of delight, the exaltation, the sense of being more than Man, which is the touchstone of the highest excellence, is to be found in mathematics as surely as poetry."