Esensialisme
Bagian pertama dari tulisan ini (karena ada beberapa bagian nantinya) akan membahas tentang pandangan yang salah tentang evolusi. Pemahaman yang salah karena adanya pegangan filosofi terhadap evolusi yang berbeda dengan pandangan Darwin. Mereka memahami bahwa segala hal yang beraneka-ragam itu bisa dimasukkan ke dalam suatu kelompok. Maksudnya adalah adanya keragaman individu-individu, bisa dikelompokkan asalkan setipe (dibaca: spesies). Dan tiap kelompok itu ada esensinya atau definisi tersendiri dari kelompok itu. Seperti kelompok pohon esensinya adalah batang dan mahkota daun dan kelompok kuda esensinya adalah kaki berjari tunggal dan gigi yang tinggi. Nah pemahaman itu disebut dengan pemahaman Esensialisme atau Tipologis. Pemahaman filosofi ini dirumuskan oleh Phytagoras dan Plato. Definisi esensi dari esensialisme adalah bahwa tiap tipe itu konstan atau tidak berubah. Jadi kalau kuda selalu menjadi kuda dan manusia selalu menjadi manusia dari pertama kali diciptakannya walau individu-individu dari tiap tipe bisa beragam, tapi tetap saja individu itu memiliki esensi yang sama pada tipenya yang artinya bahwa tiap individu itu sama dari tipenya masing-masing. Padahal, Darwin sudah menjelaskan bahwa tiap individu itu unik, walau satu populasi, tetapi tetap tidak ada yang indentik antar individu di populasi itu. Lamarck pun ikut dalam pemahaman esensialisme.
Dari pemahaman tersebut, muncullah tiga teori evolusi berdasarkan esensialisme. Pertama adalah Transmutasionisme. Karena transmutasionisme berdasar pada tipologis, maka perubahannya hanya bisa terjadi melalui munculnya tipe-tipe baru dengan terjadinya mutasi tiba-tiba. Dan ketika sudah terjadi mutasi, maka itulah tipe barunya dan itulah evolusi menurut transmutasionisme. Jadi, perubahan menjadi tipe baru itu langsung terjadi, tidak ada tahap-tahapan. Sehingga terjadi keterputusan antar tipe baru dan lama. Adanya pemikiran seperti ini dikarenakan para peneliti jaman dulu melihat kumpulan fosil yang tampak seperti peristiwa tiba-tiba. Terlihat seperti lompat-lompat antara tipe-tipe fosil. Dan bila melihat alam, maka yang terlihat adalah ketidaksinambungan, bukan perubahan secara gradual. Seperti keterputusan fenotip antar tipe. Tapi pada akhirnya, berbagai studi mengarah kepada penolakan transmutasionisme. Yaitu pengetahuan bahwa bukanlah suatu tipe yang berubah menjadi tipe baru, melainkan populasi (dibaca: banyak individu) dari tipe itu. Karena tidak mungkin satu populasi akan mengalami mutasi secara bersama dan langsung menghasilkan tipe baru seperti konsep transmutasionisme. Darwin juga sudah memikirkan mengenai keterputusan antartakson tersebut, tapi bukan berarti adanya dua tipe yang tidak berkesinambungan itu akibat transmutasionisme. Sehingga Darwin terus menekankan konsep gradualitas.
Yang kedua adalah Transformasionisme. Transformasionisme mengatakan bahwa tipe bisa berubah secara gradual seiring berjalannya waktu, namun esensi tipe itu tetap. Bila dianalogikan, transformasionisme itu seperti perkembangan suatu embrio sampai menuju dewasa. Terjadi perubahan kan? Tetapi esensinya bahwa tipe itu sendiri tetap. Nah transformasionisme dibagi menjadi dua yaitu Transformasi karena Pengaruh Lingkungan dan Transformasi karena Usaha Menuju Kesempurnaan. Yang pertama adalah teori Lamarck yaitu perubahan karena lingkungan yang disebabkan dari guna dan tak guna suatu struktur terhadap lingkungan. Jadi seolah-olah gen itu "lunak" karena bisa dimodifikasi oleh pengaruh lingkungan dan perubahan tersebut bisa diteruskan ke generasi selanjutnya. Contohnya seperti leher si jerapah.
Adanya panjang leher jerapah yang diteruskan ke generasinya itu karena tiap generasi mereka terus menerus menjulurkan leher agar bisa mencapai dahan tertinggi dari pohon untuk memakan daunnya. Darwin menerima hal bahwa ada pewarisan "lunak" akibat lingkungan. Sayangnya, Genetika Mendel membuktikan bahwa gen itu konstan. Artinya bahwa pewarisan sifat itu berasal dari gen itu sendiri. Sehingga informasi dari protein (dibaca: lingkungan) tak bisa diteruskan ke DNA di sel kelamin untuk mewarisi sifat yang di mana itu adalah Dogma Sentral. Walau sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh enzym virus HIV yaitu reverse transcriptase (membalikkan proses transkripsi), sehingga RNA virus HIV yang seharusnya tidak bisa membuat protein dari sel inang menjadi bisa membuat protein, jadi tidak perlu menginfeksi DNA sel inang, langsung ditranskripsi saja, padahal RNA kan hasil dari transkripsi.
Yang terakhir adalah Usaha Menuju Kesempurnaan. Para ahli mendasari teori ini pada kepercayaan akan teleologi kosmik. Menurut kepercayaan itu, alam ini punya kecerendungan untuk bergerak ke arah kesempurnaan yang makin tinggi. Jadi mereka beranggapan bahwa suatu tipe terus didorong maju. Jadi evolusi bukan terjadi karena munculnya tipe baru, tetapi karena tipe-tipe lama yang terus berubah. Dari sini kita bisa melihat, berarti akan terjadi jalur evolusi yang "lurus searah". Walau perubahan searah bisa dijelaskan dari seleksi alam Darwin. Dan juga bukan berarti akan searah saja jalur evolusi, karena para ahli sudah menunjukkan bahwa kecerendungan evolusi bisa berubah arah, bahkan berbalik arah. Jadi contohnya seperti populasi manusia yang akan berevolusi dan menghasilkan manusia yang lebih sempurna lagi dari yang sebelumnya. Padahal semua tergantung pada seleksi alam itu sendiri. Bisa saja perubahannya menjadi sangat berbeda (dibaca: tidak searah) dengan awalnya. Sehingga tiap tipe itu akan menjadi sama saja (dibaca: tipe itu lagi) seperti paham dari esensialisme.
Maka dari itulah kita perlu menggunakan pendekatan oleh Darwin dan Wallace untuk memahami evolusi. Karena sesuai dengan definisi kata evolusi di kbbi yaitu perubahan secara gradual dan perlahan-lahan. Bukan seperti ajaran esensialisme.
Pertanyaan terakhir adalah apakah benar bahwa tiap tipe yang berevolusi akan menuju ke kesempurnaan? Tunggu tulisan saya selanjutnya :)
Daftar Pustaka
Mayr E W.2001. What Evolution is. New York (US) : Basic Books
Refrensi
Dogma Sentral: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Central_dogma_of_molecular_biology
http://www.pewforum.org/2009/02/04/darwin-and-his-theory-of-evolution/
Gambar jerapah: http://biologimediacentre.com/evolusi-pemahaman-teori-dan-bukti-evolusi/
Esensialisme: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Typology_(archaeology)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar